Kamis, 06 Agustus 2009
RADIO PENDIDIKAN SMANSA FM MOJOKERTO 107.20 MHZ RADIO SMA NEGERI 1 MOJOKERTO

1. MANAGER
Bertanggungjawab dalam :
a.Mengawasi dan mengkoordinir operasional radio secara keseluruhan
b.Memimpin seluruh personel radio.
c.Mewakili radio ke luar.
d.Menyeleksi dan menginterview calon penyiar dan ikut mengawasi training penyiar.
e.Menyampaikan teguran baik tertulis maupun lisan kepada para crew radio secara umum setelah berkoordinasi dengan kepala studio
f.Merencanakan dan mengawasi pelaksanaan konsep/format radio, khususnya dalam program on air ( program, kepenyiaran, musik, materi siar, smash) dan juga kegiatan off air.
g.Merencanakan dan pengawasan terhadap konsep marketing, khususnya penjualan program, arus keluar masuk keuangan dan pengawasan kinerja/keuangan.
Bertanggung jawab dalam :
a.Mengawasi output dari radio terutama menyangkut kepenyiaran, produksi dan musik keseluruhan.
b.Memberikan bimbingan kepada penyiar dan operator menyangkut format,misi dan visi radio.
c.Mengawasi jalannya radio sehari-hari mulai dari pemberitaan, musik
d.Bertanggungjawab terhadap kualitas, kuantitas dari Sumber daya Manusia.
e.Merencanakan dan menyusun format siaran.
f.Merencanakan dan menyusun kegiatan off air.
g.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan.
3. SEKRETARIS/ADMINISTRASI
Bertanggungjawab dalam :
a.Menerima dan mengerjakan serta mengawasi semua keperluan administrasi secara umum, baik dari Manager,Kepala Studio maupun personel lainnya seperti penawaran, proposal, permohonan dan sebagainya.
b. Hal
c.Memeriksa jadwal penyiar, bukti siar, data siar iklan, materi iklan, materi siar dan lain-lain materi tertulis
d. Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan.
4. KEUANGAN
a.Perencanaan anggaran keuangan
b. Penyusunan dan pelaksanaan keuangan radio serta menyusun gaji/insentif para personel.
c.Mengelola keuangan radio beserta kelngkapan bukti-bukti keuangan masuk maupun keluar.
d.Membukukan semua transaksi dan membuat laporan keuangan secara berkala.
e.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan
5. PEMASARAN
Bertanggungjawab :
a.Bersama Divisi Produksi menyusun rencana/konsep dan strategi pemasaran tahunan
b. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan rencana pemasaran
c.Penyusunan dan pengawasan terhadap pelaksanaan konsep & strategi marketing tahunan
d.Mempromosikan dan mempresentasikan konsep dan produk/program radio kepada klien atau pihak-pihak yang dipandang potensial
e.Melakukan koordinasi dengan Program Designer khususnya dalam penjualan program/produk atau hal-hal lain yang diinginkan klien/pihak luar
f.Melakukan survey pendengar dan pelanggan terhadap efektifitas dan efisiensi target radio
g. Mempromosikan dan menjual produk radio dalam bentuk iklan (loose spot, adlibs, insert dan lain-lain)
h.Menyusun dan memeriksa data iklan, khususnya data siar iklan yang menyangkut jam-jam tayang iklan
i. Mengawasi dan melaporkan kepada Sekretaris dan Keuangan batas awal dan akhir penayangan iklan
j.Bersama produks designer merencanakan dan mengatur penayangan jingle, adlibs, spot dan bentuk-bentuk materi iklan lainnya menyesuaikan dengan program rutin/harian..
k.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan.
6. PRODUKSI
Bertanggungjawab dalam :
a. Penyusunan, pengerjaan dan pengawasan bidang produksi seperti : smash, jingle, spot iklan, recording dan lain-lain
b. Menyusun, melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan program off air (termasuk di dalamnya live report untuk kelengkapan on air) dan on air
c.Berkoordinasi dengan Manager dan Kepala Studio terkait tugas di atas
d.Berkoordinasi dengan Penyiar menyusun materi siar (topik dan info)
e.Mempersiapkan script dan inventarisir bahan siar (script, topik, majalah,
f.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan.
Bertanggungjawab dalam :
a. Bersama divisi lainnya mengawasi jalannya operasional radio sehari-hari
b.Mengkoordinir para penyiar dan operator, terutama masalah pergantian tugas dll.
c. Menerima konsultasi penyiar dan operator, khususnya dalam hal siaran
d.Menyusun jadwal penyiar.
e. Memberikan teguran-teguran langsung kepada penyiar dan operator jika menemukan hal-hal diluar ketentuan kepenyiaran.
f.Menjalin hubungan kerjasama dengan pihak luar/klien secara berkelanjutan (pemasang iklan, lembaga advertising, industri musik) termasuk pemirsa dan pihak lainnya
g.Mensosialisasikan dan mempresentasikan format/konsep radio kepada pihak-pihak yang membutuhkan.
h. Mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan program, rencana siar dan lain-lain terkait dengan traffic (lalu lintas acara).
i.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan.
8. REDAKTUR MUSIK
a.Bertanggung jawab terhadap format musik Radio Pemerintah Kota Denpasar.
b.Setiap acara dibuatkan file lagu-lagu sekitar 70 % dan sisanya pilihan dari penyiar
c.Memberikan masukan ke produksi mengenai musik yang dipakai.
d. Memberikan teguran kepada penyiar dan operator jika ada musik atau lagu yang tidak sesuai dengan format
e. Mencari lagu-lagu baru maupun lagu-lagu lama untuk melengkapi koleksi musik radio.
f. Menyusun log book lagu
g. Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan
9. REDAKTUR BERITA
a. Bertanggung jawab terhadap seluruh kinerja`sektor pemberitaan seluruh radio.
b.Beratanggung jawab sekaligus kordinator produksi pemberitaan, mulai dari perencanaan, reportase sampai penyiaran berita.
c.Menilai kelayakan siaran pemberitaan.
d. Menyusun dan mengawasi pembuatan breaking news
e. Mengkordinir pencarian berita-berita dilapangan
f. Menginventarisir bahan-bahan hasil liputan seperti hasil rekaman dll, dan diserahkan ke produksi
g.Menyusun jadwal, petugas dan peralatan siaran langsung maupun siaran pandangan mata.
h. Mengkordinir petugas reporter jika turun kelapangan untuk informasi lalu-lintas.
i.Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan

10. Kordinator Gatekeeper
Bertanggungjawab :
a.Terhadap arus informasi telepon ,RIG keluar masuk.
b. Mengatur jadwal operator dan
c. Sebagai kordinator operator jika siaran langsung, mengatur keluar masuknya berita-berita siaran langsung.
d. Mengkoordinir pelaksanaan sesi hot spot (info lalu lintas).
e.Pada sesi info lalin mengkoordinir informasi lalu lintas yang diperlukan
f. Mengkordinir penyiar dalam melaksanakan jadwal
g. Mencarikan pengganti jika penyiar berhalangan hadir
h.Mengkoordinir absensi penyiar
i. Memeriksa bahan siaran terutama run down.
j.Memeriksa bahan-bahan siaran terutama pengumuman, apakah masih layak disiarkan atau di inventarisir.
k. Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan
11. Tehnologi Information.
Bertanggungjawab dalam.
a. Merencanakan, Mengembangkan IT Radio
b.Melatih Operator dan penyiar mengenai Komputer yang berhubungan dengan keradioan.
c. Bersama-sama dengan redaktur musik untuk membuat perencanaan lagu dan membuat format jenis lagu.
d. Membuat date base masalah lalu-lintas, masalah musik(biografi penyanyi, pemusik,lagu dll) dan juga date base masalah informasi lainnya.
e.Memasukkan dan mentransfer lagu-lagu yang dibutuhkan.
f. Memeriksa peralatan komputer dari kerusakan baik software maupun Hardware.
g. Menerima tugas lain yang diberikan atasan yang menyangkut keradioan
Membangun News Room
Besar kecilnya news room
di dalam radio siaran, sangat tergantung pada kebutuhan dan jangkauan yang hendak dicapainya. Bisa jadi meski struktur news roomnya belum lengkap, proses pencarian dan penyajian berita tetap bisa dijalankan dengan baik.
Sebagai acuan, berikut ini
adalah struktur organisasi sebuah news room
:
News Director
Karena memegang posisi tertinggi dalam pemberitaan, news director paling tidak harus memiliki pengalaman luas dalam hal pemberitaan, memiliki kemampuan administrasi dan pengalaman mensupervisi. sehari-hari, news director bertugas untuk memberikan persetujuan dan mengawasi proses pembuatan dan pemilihan berita dan memimpin rapat redaksi. News director mempertanggung jawabkan penyajian berita k
epada management. Isi dari pertanggungjawabannya sudah tentu adalah berita yang
disajikan.
News Editor
News editor bertanggung
jawab untuk mengawasi dan memilih beri
ta-berita yang masuk dan akan disiarkan, mulai dari bentuk berita, isi b
erita, jumlah berita, susu
nan berita, alur penyampaian sebuah berita, memilih berita yang akan dijadikan sebagai headline hingga waktu yang tepat untuk menyampaikan berita tersebut. Dalam kesehariannya News editor bekerjasama dengan koordinator liputan, penulis berita atau scriptwriter dan penyiar. News editor
juga bertuga
s untuk memberikan pengarahan kepada koordinator liputan sehingga bisa didapatkan gambaran berita seperti apa yang
ingin disiarkan, mulai dari pemilihan angle hingga target narasumber yang akan diwawancarai. Seorang News editor dituntut untuk memiliki pemahaman tentang keradioan, jurnalistik radio, dan tekhnik produksi.
Koordinator Liputan
/ Koordinator Reporter
Koordinator liputan bertanggung jawab atas semua yang akan diliput dan diberitakan. Mulai dari membagi tugas lip
u
tan,
melakukan briefing kepada reporter mengenai target-target berita yang harus didapat, memantau proses peliputan melalui komunikasi yang selalu dilakukan dengan reporter di la
pangan, memberikan solusi atas kesulitan yang dihadapi reporter di lapangan.
Reporter
Tugas reporter seperti yang kita ketahui adalah mencari berita dilapangan sesuai dengan arahan dari News eitor dengan panduan koordinator liputan. Jika ada kesulitan dilapangan, reporter s
ebaiknya jangan mengambil keputusan sendiri agar berita yang diliput tidak ditolak hanya karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu reporter harus selalu melakukan kom
unikasi dengan koordinator liputan, apakah itu rencana untuk melakukan manuver pertanyaan, manuver angle berita m
aupun penggantian narasumber. Untuk radio yang memiliki jumlah Reporter cukup banyak, bisa menempatkan reporter-reporternya sesuai dengan pos-pos / sektor yang sudah ditentukan, misalnya ekonomi, politik, krimi
nal, dan lain sebagainya.
Sriptwriter
Scriptwriter bertugas untuk membuat berita baca, baik yang bersumber dari laporan reporter ataupun sumber-sumber lain yang disetujui oleh news editor. Scriptwriter harus menguasai kaidah-kaidah penulisan berita dan penulisan materi kata, antara lain seperti menguasai prinsip penulisan berita radio yang KISS (Keep It Short and Simp
le) dan penggunaan bahasa tutur.
Pembaca Berita / Newscaster
Lini akhir dari sebuah news room bermuara pada newscaster. Untuk bisa menyampaikan berita dengan baik, seorang penyiar harus memiliki kemampuan lebih dari sekedar membaca naskah berita. Seorang newscater harus menguasai apa yang akan disampaik
annya, baik itu berita baca maupun laporan reporter yang harus dihantarkannya kepada pendengar. Jadi, selain menjadi penyiar yang baik, seorang newscaster harus menguasai materi berita.
Di dalam sebuah radio, biasan
ya struktur organisasi News Room me
mang tidak setegas dan serumit ini. Bisa saja beberapa fungsi dirangkap oleh seorang petugas. Misalnya, program director merangkap sebagai news editor sekaligus koordinator reporter
, atau seorang penyiar merangkap sebagai reporter dan scrptwriter. Namun jika petugas ters
ebut sudah mulai nampak kewalahan dengan fungsi-fungsi yang dijalankannya, jangan sampai terlambat untuk menambah jumlah personil, agar kualitas berita yang kita sajikan bisa tetap terjaga dengan baik.
Pengenalan Tentang Radio
BAB I
PENGENALAN TENTANG RADIO
Oleh: Rioni Imron, S.Sos
~Bayu Caraka Agustus, 2008.A. Pengenalan Tentang Radio
Radio pada mulanya ditemukan pada tahun 1819 oleh orang berkebangsaan Italia yang membuat suatu alat komunikasi tanpa kabel ( wireless ) dan dikembangkan pada tahun 1919 oleh orang berkebangsaan Belanda untuk penyiaran informasi dan hiburan.
1. Maju Mundurnya Dunia Siaran Radio secara Global
Pada tahun 1950, Radio mulai didengar dan digemari oleh masyarakat, bahkan mereka menganggap bahwa suatu negara tidak akan berjalan atau tidak lengkap apabila tidak adanya media radio sebagai kunci informasi dan hiburan bagi masyarakatnya.Ini dikarenakan saat itu media radio adalah satu-satunya medai electronik yang sangat efisien dan dapat dengar oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada tahun 1960 s/d 1970 minat masyarakat dengan media electronik radio ( Audio/Suara ) mulai menurun karena munculnya media Electronik Televisi yang cara kerjanya menampilkan suara & gambar ( Audio & Visual ) .Namun ketika itu Media televisi belum empunyai berbagai macam format siaran yang profesional.
Hadirnya media televisi, membuat orang-orang radio menjadi lebih kreatif dalan meciptakan program-program acara yang bermutu dan berkwalitas agar pangsa pasar pendengar mereka tidak diambil alih oleh media televisi , dan ini terjadi tahun 1970 s/d 1980. Namun kemajuan zaman dalam media televisi tak terbendung karena semakin canggihnya peralatan yang selalu mengedepankan keunggulan televisi sebagai media Audio & Visual , membuat tertinggalnya media radio yang hanya mengedepankan Audio/ Suara. Hingga tahun 1980 masa kejayaan media radio dapat diambil alih oleh media Televisi.
Dapat digambarkan grafik atau urutan media yang diminati masyarakat saat ini :
a. Televisi
b. Radio
c. Media cetak
d. Reklame
B. Ciri Khas Suatu Radio
Setiap media radio m
asing-masing mempunyai ciri khas yang berbeda-beda , ini dapat kita dengarkan di radio-radio seluruh
1. Jingle
2. Slide
3. Smash
4. Panggilan pendengar ( Call Audience )
5. Panggilan Radio ( Call Radio )
6. Segmentasi pendengar
7. Warna musik
8. Dll
Contoh :
Radio Republik Indonesia ( RRI ) Panggilan Pendengar “ Saudara Pendengar “dengan segmentasi pendengar ( All Segment ) semua khalayak pendengar.
Radio Grees FM Pekanbaru , Panggilan Pendengar “ Sobat Sebaya “ dengan segmentasi pendengar Anak Muda.
Radio Prambors Jakarta , Panggilan Pendengar “ Kawula Muda “ dengan segmentasi pendengar Anak Muda.
Ciri khas lain yang menjadi unggulan bagi radio adalah lagu/musik yang disajikan, Contoh:
Radio Dangdut : yang menyajikan 100 % lagu-lagu dangdut
Radio yang menyajikan 100 % lagu-lagu
Dalam penyajian program acara di radio tidak dapat diklarifikasikan dengan segment pendengar karena program acara tidak semua yang didengar tepat sasaran contohnya acara anak-anak , pendengarnya bukan saja anak-anak tetapi juga orang tua serta orang dewasa , karena itu image dalam suatu program acara tidak bisa menjadi patokan dalam mengejar segment pendengar ( sasaran pendengar ). Jadi pada dasarnya dalam suatu program acara yang terpenting adalah bagaimana agar image masayarakat tersebut dapat manarik pendengar terbanyak dan berkesan dihati pendengar.
Seluruh bidang diradio yang profesional harus mempunyai format, baik Program acara ataupun lainnya agar dapat menyatukan / menyeragamkan mekanisme kerja setiap bidang untuk dapat menyatukan visi dari setiap bidang – bidang diradio serta mampu mencapai sasaran pendengar yang diinginkan.
Contoh : Format Program Siaran
1. Penyebutan panggilan pendengar ( Call Audience ) harus sama
2. Lagu yang di sajikan harus 100 %
3. Panggilan radio ( Call Radio ) harus sama
4. dll.
Format siaran tidak bersifat
Hasil survei yang dilakukan oleh pihak radio dan Pemda Kab. Kampar serta informasi dari pendengar , saat ini radio Pemda yang bekerja pada Frekuensi 106.1 FM mempunyai jangkauan radius 88 KM meliputi Riau daratan..
BAB II
BIDANG – BIDANG OPERASIONAL MEDIA RADIO ( STRUKTUR )
A. Bidang – bidang yang terdapat dalam suatu radio ( Strukstur )
1. Pimpinan / General Manager
2. Ka. Siaran ./ Program Manager
3. Marketing Manager
4. Administrasi
5. Keuangan / Finance
6. Penata Lagu / Music Director
7. Redaksi Berita
8. Produksi / Production
9. Recording
General Manager / Pimpinan
Marketing Manager Program Manager Administrasi Keuangan/Finace
Marketing ADM Programmer
Marketing Lapangan Redaksi Berita
Music Director
Produksi / Production
Recording
Reporter
Penyiar
BAB III
MEKANISME / JOB KERJA MASING-MASING BIDANG RADIO
General Manager ( Pimpinan )
Seperti kita ketahui bahwa seorang general manager ( Pimpinan ) harus mengetahui tugas-tugas / job kerja semua bidang baik itu di radio maupun yang di perusahaan lain
nya, ini disebabkan agar proses kerja jangka pendek / panjang yang akan dilaksanakan dapat sukses tanpa ada hambatan. General Manager harus bisa berkoordinasi /membimbing bidang-bidang yang ada. Begitu juga dengan koordinasi antar bidang..
Program Manager / Ka. Siaran
Bagi Radio siaran publik yang menyajikan informasi / hiburan keberadaan Program Manager / Ka. Siaran sangat dibutuhkan karena tugas-tugas yang dilakukan selaku penanggungjawab siaran sangat berat karena maju mundurnya radio terletak pada Program Manager. Seorang Program Manager harus mampu menghetahui dan mengkoordinir seluruh bidang-bidang menyangkut siaran dan arah sasaran pendengar radio tersebut karena membawahi :
1. Programmer
2. Music Director
3. Redaksi Berita
4. Production
5. Recording
6. Reporter
7. Penyiar
Programmer.
Tugas/Job yang dilaksanakan oleh seorang Programmer
1. Menciptakan program acara dan mekanismenya
2. Presentase Acara ke semua bidang
3. Mengatur Jadwal Tugas Penyiar
4. Membuat Log Book Siaran
5. Bertanggung jawab atas acara-acara yang disajikan
6. Bertanggungjawab atas seluruh kegiatan penyiar di radio
7. Selalu berkoordinasi dengan seluruh bidang
1. Menentukan lagu-lagu yang layak disajikan oleh radio
2. Menentukan musik/Intrument untuk pembuatan iklan atau Back sound acara
3. Menentukan lagu-lagu untuk acara khusus
4. Mempersiapkan lagu-lagu pada moment-moment penting
5. Selalu berkoordinasi dengan bidang lain
Redaksi Berita
1. Bertanggung jawab atas oleh naskah berita radio dan informasi yang disajikan
2. Membuat/edit berita yang dikutip dimedia lain.
3. Menentukan berita-berita yang layak disajikan atau tidak layak disajikan
4. Mengkoordinir team Jurnalis / liputan berita dan reporter Radio
Production
· Bertanggung jawab atas hasil produksi, rekaman, mulai dari naskah , musik , backsound , intonasi pengucapan kalimat serta smash yang diramu dalam satu paket acara/iklan dll.
· Selalu menciptakan ide-ide baru dalam memproduksi acara / iklan maupun rekaman khusus ( moment )
· Selalu memperhatikan kualitas kerja.
· Recording .
· Merekam , mengedit iklan / acara-acara dalam bentuk rekaman.
Reporter.
Dalam dunia radio sangat penting sekali seorang reporter , karena reporter dapat menggambarkan suatu kejadian dalam kata/kalimat/intonasi yang sedang terjadi pada saat itu, maka seorang reporter harus bisa mengerti tentang teknik dan mekanisme REPORTASE.
Seorang reporter tidak boleh “membohongi” pendengar , karena efek dari suatu kebohongan dan informasi kemasyarakat cukup besar apalagi dalam meliput suatu kejadian yang dapat menarik dayak minat pendengar untuk ikut menyaksikan langsung kejadian tersebut setelah mendengarkan radio.
Pada intinya seorang reporter radio harus apa adanya ( apa yang dilihat, didengar, itu yang disampaikan kemasyarakat, dan agar selalu aktual , reporter harus memastikan terlebih dahulu
Radio publik identik dengan penyiar karena sumber informasi pada awalnya disampaikan oleh seorang penyiar, jadi seorang penyiar harus berwawasan luas, mempunyai Sumber Daya manusia ( SDM ) yang baik serta mau bekerja keras.
Menjadi seorang penyiar tidaklah mudah, karena seorang penyiar harus bisa menjadi sosok panutan yang begitu dekat sehingga image pendengar terhadap seorang penyiar tersebut sangat baik. Mulai dari rasa percaya diri, kalimat /intonasi ,
Marketing
Setiap Radio mempunyai bidang marketing / pemasaran. Seperti kita ketahui bahwa media radio adalah biro jasa yang menjual kreatifitas dari orang radio itu sendiri, oleh sebab itu orang radio harus yang berjiwa kreatif dan mau bekerja keras agar dapat mencapai target kerja yang diinginkan. Begitu juga bidang marketing yang selalu optimis dalam melaksanakan tugas untuk meraih pangsa pasar dengan penawaran kerjasama berbentuk iklan atau sponsor acara yang dibuat oleh bidang programmer dan disetujui oleh Program Manager. Seorang Marketing di radio harus bisa menentukan harga iklan ataupun acara yang diajukan dalam tindak lanjut kerjasama dengan pihak klien / mitra kerja serta bisa meyakinkan klien / mitra kerja bahwa iklan / acara yang diajukan tersebut didengar oleh orang banyak dan mampu meningkatkan image terhadap produk yang mensponsori ataupun iklan yang diudarakan , dan ini sangat dibutuhkan keprofesionalismean dari seorang marketing , mulai Administrasi , order iklan maupun penyusunan jadwal pemutaran iklan pada log book iklan di Box Siar.
Administrasi
Agar dapat menunjang kesuksesan dan keprofesionalismean di bidang radio, bidang Adiministrasi sangat mendukung karena
Radio dan Internet
Data dari Asosiasi Pengusaha Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukkan bahwa hingga pertengahan tahun 2008 di Indonesia tercatat sekitar 25 juta pengguna internet. Angka ini ditargetkan meningkat hingga 50 juta pengguna pada akhir tahun 2008.
Semakin meningkatnya pengguna internet di
Banyak radio yang sudah memiliki website, namun apakah fungsi dari website radio hanya sebagai media promosi? Idealnya apa isi website tersebut agar bisa lebih mendatangkan manfaat?
Website sebuah radio antara lain bisa diisi dengan:
Non program:
- Visi dan misi perusahaan disertai profil pengelola.
- Data tekhnis radio dan tarif iklan. Akan lebih mempermudah jika disediakan fasilitas pemasangan iklan dan pengiriman materi iklan secara online.
- Arsip kegiatan-kegiatan off air yang pernah diselenggarakan.
- Testimonial klien yang pernah menggunakan jasa radio kita.
Program:
- Profil acara dan penyiar, lengkap dengan fasilitas agar pendengar bisa berinteraksi langsung ke dalam acara maupun dengan penyiar secara online.
- Radio streaming, untuk mengantisipasi pendengar yang sedang berada di luar jangkauan siaran.
- Podcast (atau bahkan videocast) acara, agar pendengar yang tidak sempat mendengarkan acara secara langsung bisa mendengarkannya melalui internet di waktu yang berbeda.
- Chat room dan forum, agar pendengar bisa saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya
- Jika memiliki acara berita, kita juga bisa memasukkan naskah berita / informasi yang disiarkan dan rutin memperbaharuinya
- Bisa juga menampilkan promo acara dan rencana kegiatan yang akan dilakukan, serta membuka halaman kritik dan saran.
Fasilitas-fasilitas yang ada dalam website bisa terus dikembangkan. Usahakan untuk melakukan update sesering mungkin, jangan sampai hanya dibuat kemudian ditinggalkan.
Pengenalan Radio
Dunia siaran terbagi atas 3 (tiga) pilar, yaitu :
1. Bidang Produksi / Penyiaran
2. Bidang Usaha / Management
3. Bidang Tehnik / Perangkat
Adapun perana sebuah station Radio, adalah :
1. Sebagai sarana Informasi tercepat untuk mendapatkan akses berita terhangat.
2. Sebagai sarana Edukasi (pendidikan) yang dapat memberikan nilai positif.
3. Sebagai sarana Hiburan yang syarat akan estetika di Indonesia.
Modal utama untuk menjadi seorang Penyiar Stasiun Radio, adalah :
1. Skill = kemampuan (talenta) yang dimiliki yang tentunya tidak terlepas dari bakat yang ada.
2. Operating Skill = memiliki kemampuan mengoperasikan equipment yang ada pada stasiun radio seperti mixer audio, cd player, computer skill khususnya software pemutar lagu.
3. Musical Touch = ini adalah modal yang mesti harus dimiliki agar menjadi seorang penyiar handal.
Karakter Medium Radio, antara lain :
1. Menjaga Mobilitas : dapat didengar tanpa harus menghentikan aktivitas yang sementara kita jalankan.
2. Sumber Informasi Tercepat, karena dapat didengar langsung melalui reportase yang disampaikan nantinya.
3. Bersifat Auditif.
Keunggulan Media Radio dibandingkankan dengan Media Elektronik lainnya :
1. Proses operasionalnya lebih mudah.
2. Biaya operasionalnya juga lebih murah.
3. Komunikasi melalui suara (audio) lebih mudah dibandingkan dengan melihat (visual) atau mendengar.
4. Komunikasi personal, yang dapat menciptakan keakraban antara Radio dan Pendengar.
5. Menciptakan "Theater Of Mind" (imaginasi dalam diri pendengar), dimana kekuatan yang muncul akibat warna suara dan permainan teknik intonasi dari announcer.
6. Bersifat " Mass Distributor" ( informasi,edukasi,hiburan yang simultan )
7. Sarana yang Murah (biaya penyelenggaraan,receiver serta "gratis" alias tidak perlu membayar)
8. Format dan Segmentasi yang Tajam, sehingga dapat menciptakan "positioning" atau membidik sasaran.
9. Daya jangkau luas, mengatasi hambatan geografis, cuaca dan waktu.
10. Selintas / tak terdokumentasi (tidak dapat direkam secara tiba-tiba)
11. Anti Detail, sebab semakin mendetail maka semakin besar informasi yang bias.
Menjadi Penyiar Profesional
* Temukan Suara Terbaik Anda!
RADIO adalah suara (sound)! Media yang hanya bisa didengar (auditif). Suara (voice) pula yang jadi aset terpenting seorang penyiar –sebagai ujung tombak, front liner, sebuah radio yang berinteraksi langsung dengan pendengar.
Banyak orang terlahir dengan memiliki suara indah. Namun, kebanyakan dari kita harus bekerja keras untuk menjadi penyiar profesional. Lagi pula, jadi penyiar profesional tidak cukup bermodal suara emas (golden voice), tapi juga perlu modal lainnya, seperti wawasan, sense of music, dan sense of humor.
WAWASAN
Penyiar harus berwawasan agar siarannya hidup, dinamis, berisi, dan tidak monoton. Kosakata, varietas kata, improvisasi, hanya bisa dilakukan oleh penyiar yang berwawasan luas. Karena itu, banyak baca, jadilah orang yang haus pengetahuan! Dijami, jika Anda berwawasan luas, takkan kehabisan kata-kata untuk berbicara.
SENSE OF MUSIC
Penyiar harus memiliki sense of music yang tinggi. Soalnya, tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya.
SENSE OF HUMOR
Penyiar juga harus humoris, punya bakat menghibur. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar radio dituntut mampu menghibur pendengar. Lagi pula, radio identik dengan hiburan (entertaintment).
BAHASA TUTUR
Siaran harus menggunakan bahasa tutur, bahasa percakapan (conversational language), demikian juga naskah berita atau iklan.
Bahasa tutur yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang mempunyai ciri khas: (a) kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung; dan (b) menggunakan kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari (spoken words).
Didalam bahasa tutur, lagu kalimat (infleksi, inflection) memegang peranan penting. Tanpa bantuan lagu kalimat sering orang mengalami kesukaran dalam memahami bahasa tutur. Sama pentingnya adalah artikulasi atau pronounciation (pengucapan kata), intonasi (nada suara atau irama bicara), aksentuasi (logat, dialek, stressing), dan speed (kecepatan berbicara, tempo).
TAMPILKAN SUARA TERBAIK! RILEKS!
Penyiar adalah “pemain sandiwara” (performer) dan menghadapi tantangan yang sama dengan penyanyi atau aktor. Begitu di atas pentas, di depan kamera, atau di belakang microphone, Anda tidak akan dapat memberikan penampilan terbaik kecuali jika Anda santai (relax). Tenggorokan tercekik (tight throat), leher tegang, dan pundak yang kaku, akan membuat Anda tidak dapat mengeluarkan suara terbaik.
Bagaimana biar rileks? Bukan dengan mengatakan pada diri Anda, “Relax, fool, relax!” Relaksasi bukanlah soal psikologis, tapi soal fisik. Ia tidak dimulai di otak, tapi di badan. Relaksasi diperoleh melalui sebuah proses fisik berupa peregangan dan pernafasan. Jika tubuh Anda rileks, emosi Anda akan mengikuti.
ATUR NAFAS!
Mati lemas atau kekurangan nafas (suffocation) adalah penyebab kematian nomor satu di kalangan penyiar. Banyak penyiar biasa terus menahan nafas selama bertutur. Nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus.
Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional. Naskah siaran harus memberi kesempatan untuk bernafas. Ketika Anda membaca naskah, buatlah tanda di mana Anda akan mengambil nafas. Ikuti instruksi Anda sendiri dan bernafaslah saat Anda melihat tanda itu.
Sikap badan yang baik dan dukungan dari diafragma Anda, akan membuat tiap nafas bekerja lebih lama bagi Anda. Anda bisa latih hal itu dengan cara meratakan jari tangan dan tekan diafragma (rongga antara dana dan perut). Ketika Anda mulai dengan suara rendah, tekan diafragma Anda dengan tangan. Teknik ini akan memberi Anda kekuatan ekstra.
Jauhkan mulut Anda dari microphone saat menarik nafas. Jangan sampai tarikan nafas Anda mengudara
VISUALISASI!
Penyiar radio berbicara kepada pendengar yang tidak terlihat. Secara simultan (bersamaan), sebagai penyiar Anda berbicara kepada tidak seorang pun (talk to no one) –karena tidak satu orang pendengar pun yang hadir secara fisik di depan Anda— dan kepada setiap orang (talk to everyone), mungkin ribuan pendengar. Talk to one one and eveyone!
Penyiar radio juga sering sendirian di ruang siaran, tidak ada lawan bicara, hanya ditemani sejumlah “benda mati” –komputer, mixer, dan sebagainya. Membentuk “mental image” tentang pendengar Anda sangat penting untuk siaran terbaik.
Berbicara kepada benda mati bukan saja tidak membangkitkan semangat (uninspiring), tapi juga tidak realistis. Karenanya, saat siaran, bayangkan Anda sedang berbicara pada seorang teman, atau sekelompok kecil orang.
Membayangkan adanya seorang pendengar di depan Anda, akan membantu Anda berkomunikasi secara alamiah,
TENTUKAN PILIHAN KATA!
Di radio, Anda hanya punya satu kesempatan untuk membuat pendengar Anda mengerti yang Anda kemukakan. Di media cetak, pembaca akan mengulang bacaan pada bagian yang mereka tidak pahami. Di televisi, ada bantuan visual untuk memperjelas berita. Tapi di radio, yang dimiliki pendengar hanya suara Anda.
Karena itu, saat menyampaikan sebuah informasi, putuskan katak-kata mana yang menjadi kata kunci (key words) dan garisbawahi. Tiap kata memiliki nilai berbeda. Putuskan apa yang akan Anda tekankan, di mana lagu kalimat (inflection) Anda akan menaik dan menurun, dan di mana Anda akan bernafas. Biasanya, infleksi menaik kalau akan bersambung dan menurun jika akan berhenti.
KONSENTRASI!
Tidak ada pilot otomatis dalam siaran. Jika Anda tidak mendengar apa yang Anda katakan, tidak ada orang lain yang akan mendengar.
Siaran yang baik membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Tidak mudah untuk mengatur nafas Anda, memvisualkan pendengar Anda, dan melaporkan cerita pada saat yang sama. Karena itu, relaksasi adalah kunci konsentrasi.
LATIHAN!
Best voice requires experimentation. Seorang penyiar harus menemukan suara terbaiknya dan ini butuh eksperimen. Jika Anda punya pilihan mikrofon, cobalah satu per satu untuk menemukan mike paling sesuai bagi Anda. Beberapa mike dibuat untuk mendorong tinggi-rendah suara Anda, dan Anda bisa menyelaraskannya sesuai dengan kebutuhan Anda. Mintalah bantuan teknisi.
Cobalah dengan merekam suara Anda dalam sikap tubuh yang berbeda, kedekatan yang berbeda dengan mike, dan tingkat proyeksi (pengerasan) yang berbeda.
Bayangkan ragam pendengar dan lihatlah bagaimana “mental image” ini mempengaruhi penyampaian Anda.
BICARA KEPADA SATU ORANG!
Bayangkan, pendengar itu satu orang! Orang yang baru pertama kali berbicara di radio, sering secara salah memvisualkan pendengarnya –membayangkan bahwa pendengar itu ribuan. Padahal, orang yang mendengarkan itu dalam kelompok berjumlah satu orang (in group of one). Ya, bayangkan pendengar itu satu orang!
TEMAN AKRAB!
Berbicaralah layaknya kepada teman akrab (intimate friend). Lihat wajah teman Anda itu dalam “pikiran mata” (mind’s eye) Anda.
SMILE!
Senyumlah, meski pendengar tidak melihat Anda. Berbicara dengan senyum, akan terasa hangat, ramah, friendly, di telinga pendengar.
KONTAK MATA!
Lakukan kontak mata! Pandanglah ia sekali-sekali untuk melakukan kontak mata (eye contact), meskipun hanya ada satu orang di ruangan –Anda sendiri!
GESTURE!
Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun tidak ada orang yang melihat Anda. Anda adalah aktor. Saat berbicara di depan umum (public speaking), jika Anda punya mike portable (mudah dibawa), bergeraklah mengitari panggung. Bayangkan Anda adalah seorang aktor yang sedang “mentas” di televisi.
JEDA!
Jedalah untuk beberapa detik untuk membiarkan pesan Anda sampai ke pendengar. Saat jeda, buatlah kontak mata. Anda juga bisa jeda jika mencari gagasan berikutnya.
INFLEKSI!
Pelajarilah cara orang berbicara saat ngobrol dan gunakan pola pembicaraan itu ketika memnbaca naskah. “Intiplah” pembicaraan orang di restoran. Perhatikan bagaimana dinamika vokal mereka berfluktuasi: lebih keras, lebih lembut. Juga perhatikan obrolan itu berubah-ubah arah dan bagaimana tingkat lagu kalimat (range of inflection) mereka melebar.
MENGATASI GUGUP
Mulut Anda kering, jantung berdebar, dan lutut bergetar. Anda pun panik! Ya, Anda gugup (nervous). Lantas harus bagaimana?
1. Tarik nafas yang dalam – penuhi tubuh Anda dengan oksigen. Ini akan membantu otak Anda bekerja.
2. Gerakan badan Anda (bluff). Berdiri tegak, layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap. Lalu tersenyumlah! Meskipun Anda tidak merasa bahagia atau percaya diri, lakukanlah. Anda akan tampak percaya diri dan tubuh Anda akan “mengelabui” otak Anda untuk berpikir bahwa ini adalah percaya diri. Bluff - body and smile
3. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral, jangan sampia mulut dan tenggorokan Anda kering.
4. Lancarkan aliran darah dengan memijat dahi.
5. Pastikan Anda sudah siap. Siapkan bahan pembicaraan, pahami tema atau naskah.
TEKNIK VOKAL
penyiar harus lancar bicara dengan kualitas vokal yang baik. Teknik vokal yang diperlukan antara lain kontrol suara (voice control) selama siaran, meliputi pola titinada (pitch), kerasnya suara (loudness), tempo (time), dan kadar suara (quality).
Diafragma!
Kualitas suara yang diperlukan seorang penyiar adalah “suara perut”, suara yang keluar dari rongga badan antara dada dan perut –dikenal dengan sebutan “suara diafragma”. Jenis suara ini akan lebih bertenaga (powerful), bulat, terdengar jelas, dan keras tanpa harus berteriak.
Untuk bisa mengeluarkan suara diafragma, menurut para ahli vokal, bisa dilakukan dengan latihan pernafasan, antara lain:
a. Ucapkan huruf vocal A, I, U, E, O dengan panjang-panjang. Contoh: tarik nafas, lalu suarakan AAAAAaaaaaaaaaaaaa… (dengan bulat), terus, sampai habis nafas. Dilanjutkan lagi untuk huruf lainnya.
b. Suarakan AAAAaaaaaaa… dari nada rendah, lalu naik sampai AAAAaaaaaaa… nada tinggi.
c. Ambil napas pelan-pelan. Ketika diafragma dirasa udah penuh, buang pelan-pelan. Untuk nambah power, buang nafas itu, hela dengan cara berdesis: ss… ss… ss… (putus-putus), seperti memompa isi udara keluar. Akan tampak diafragma Anda bergerak.
d. Saat mengambil napas, bahu jangan sampai terangkat. Kalau terangkat, berarti Anda bernapas dengan paru-paru. Contoh: ketika orang sedang ambil napas mendadak karena kaget, ia akan mengambil napas dengan paru-paru. Makanya, orang kaget suka megang dada.
Intonasi!
Intonasi (intonation) adalah nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton. Intonasi menentukan ada tidaknya antusiasme dan emosi dalam berbicara.
Misalnya, mengucapkan “Bagus ya!” dengan tersenyum dan semangat, akan berbeda dengan mengucapkannya dalam ekspresi wajah datar, bahkan nada sinis. Latihan intonasi bisa dengan mengucapkan kata “Aduh” dengan berbagai ekspresi –sedih, kaget, sakit, riang, dan seterunya.
Aksentuasi!
Aksentuasi (accentuation) adalah logat atau dialek. Lakukan penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting. Misal, “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”; atau “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”; “Saat sakit, tindakan terbaik adalah dengan minum obat”.
Aksentuasi dapat dilatih dengan cara menggunakan “konsep suku kata” -dan, yang, di (satu suku kata); minggu, jadi, siap,
Speed!
Gunaka kecepatan (speed) dan kelambatan berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada kejelasan (clarity), juga durasi. Kalo waktu siaran sudah mepet, kecepatan diperlukan.
Artikulasi!
Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan kata-kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Setiap kata yang diucapkan harus jelas, misalkan harus beda antara ektrem dengan eksim. Seringkali, dijumpai kata atau istilah yang pengucapannya berbeda dengan penulisannya, utamanya kata-kata asing seperti “grand prix” (grong pri), atau nama-nama orang Barat — -”Tom Cruise” (Tom Cruz), George Bush (Jos Bus), dan banyak lagi.

Be Yourself!
Keaslian (naturalness) suara harus keliar. Bicara jangan dibuat-buat. Anda harus menjadi diri sendiri, be yourself, tidak meniru orang lain.
Ceria!
Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood, apalagi ”judes”! Ingat, penyiar adalah penghibur, entertainer!
Hangat!
Keramahtamahan (friendliness) sangat penting. Anda harus sopan, hangat, dan akrab. Penyiar profesional menjadi teman dekat bagi pendengar.*
Skill yang harus dikuasai seorang wartawan itu yang utama adalah teknik jurnalistik, meliputi teknik reportase (meliput, wawancara, dan menulis berita/feature/artikel), penguasaan masalah yang diliput/ditulis, dan ketaatan pada kode etik jurnalistik. Ringkasnya, saya ulang: teknik jurnalistik, pemahaman bidang liputan, dan ketaatan pada kode etik.
Teknik jurnalistik itu harus dilatih, diasah. Minimal, seorang wartawan pernah mengikuti diklat jurnalistik untuk memahami dan menguasai teknik peliputan/wawancara dan penulisan berita. Menulis berita itu ada aturan mainnya, seperti penulisan judul berita, lead atau teras berita, dan isi berita (body). Prinsip penulisan 5W+1H harus dipahami betul agar berita itu lengkap (bukan panjang), terus kode etik penulisan berita, seperti asas berimbang, covering both side, praduga tak bersalah, dan sebagainya.
Dalam peliputan, dalam hal ini teknik wawancara, wartawan harus menguasai ilmu/teknik wawancara, misalnya memahami latar belakang masalah/peristiwa (penguasaan bidang liputan), agar nanti tidak salah persepsi atau salah tulis, dan dalam wawancara jangan pernah “dengan kepala kosong” (tidak paham materi wawancara). Dalam peliputan/wawancara, wartawan harus mampu fleksibel, adaptasi dengan situasi, dan “tahan banting”.
Soal kode etik, ini yang membedakan antara wartawan sejati dengan wartawan gadungan. Wartawan profesional pasti menaati kode etik jurnalistik, seperti tidak menerima/memburu “amplop” dari narasumber. Wartawan itu pekerjaan orang profesional, seperti halnya dokter dan pengacara, yang harus taat pada kode etik. Jika wartawan tidak menaati kode etik, berarti bukan wartawan profesional.
Menjadi wartawan itu adalah panggilan jiwa, bukan keterpaksaan. Karenanya, dalam diri wartawan harus selalu ada semangat, antusiasme, untuk mengabarkan apa saja yang penting diketahui oleh publik. Peran wartawan/media adalah menginformasikan (to inform), menghibur (to entertaint), mendidik (to educate), dan mengawasi kinerja pemerintah dan perilaku masyarakat (social control) agar taat asas dan tertib dalam melaksanakan perannya.
::Visi::
Smansa Fm adalah sumber pemberdayaan dan kegiatan, melalui media radio yang mengikuti perkembangan teknologi, informasi, komunikasi dan telekomunikasi.
Kami berupaya dan berusaha untuk hadir ikut ambil bagian bersama-sama dengan pihak yang berkompeten untuk bekerjasama dalam penyampaian aspirasi dan memberikan pesan moral melalui format siar dan program acaranya .
Berbaur dengan seluruh jenjang dan strata masyarakat menghadirkan media informasi dan komunikasi elektronik serta sarana hiburan yang murah meriah dan bermutu.
Adapun acuan kami adalah tetap mengutamakan etika dan estetika siaran radio dengan mengikuti, menyesuaikan, perkembangan yang ada. Antara lain sebagai berikut:
Berperan sebagai sarana dan wahana komunikasi yang komunikatif kepada berbagai kalangan, Pemerintah maupun Non pemerintah dalam usaha sosialisasi kepada masyarakat luas.
Membuka wahana kepada generasi muda agar mempunyai kegiatan positif untuk mengungkapkan pendapat maupun ide secara bebas bertanggung jawab.
Menggalang dan membentuk pendengar dan penggemar dari semua lapisan masyarakat.
Berdasarkan pengalaman penulis dan dari berbagai sumber bacaan.
PERSIAPAN
- KUASAI MASALAH.
Anda melakukan bunuh diri jika melakukan interview tanpa menguasai permasalahannya. Banyak narasumber yang punya hobi bertanya balik kepada interviewer. Jika Anda tidak bisa menjawab, wawancara pasti berakhir sebelum Anda memulainya. Penguasaan masalah juga penting untuk menghasilkan wawancara yang bermutu. Penguasaan masalah akan menghasilkan pertanyaan bermutu dan sesuai dengan pertanyaan yang diinginkan oleh pendengar.
2. PELAJARI SOSOK NARASUMBER.
Bukan hanya masalahnya yang harus dikuasai, sosok narasumbernya pun harus diketahui secara pasti. Bagaimana mungkin Anda akan percaya pada ucapan seseorang jika Anda tidak tahu persis siapa yang diwawancara. Selain itu, banyak manfaat jika kita mengenal lebih dalam tentang sosok narasumber. Dalam banyak kasus, pengetahuan kita tentang narasumber sering menjadi ice breaker (pemecah kekakuan atau kebuntuan) yang luar biasa. Kita harus tahu hobinya, latar belakang pekerjaan/pendidikan, agama, keluarganya dll.
3. PELAJARI LOKASI INTERVIEW
Lokasi interview sangat penting dipelajari oleh reporter radio dan juga televisi. Buat wartawan cetak bisa jadi tidak terlalu penting. Dalam banyak kasus, reporter radio mengalami kesulitan karena salah menentukan lokasi interview. Karena misalnya, terlalu ramai, ruangannya berdengung dll. Ingat, radio butuh suara yang bagus.
4. PERSIAPKAN ALAT PEREKAM DENGAN SEMPURNA
Alat perekam adalah istri pertama reporter radio, sama seperti kamera untuk fotografer dan bedil untuk tentara. Oleh karena itu, alat perekam harus dipersiapkan secara sempurna. Jangan sampai terjadi kekurangan atau kesalahan alat perekam sehingga interview batal. Baterei dan kaset/cd misalnya, harus diperhitungkan berapa lama daya tahannya. Kalau menggunakan perekam digital, berapa banyak kapasitas harddisknya.
5. BUAT DAFTAR PERTANYAAN
Jangan pernah sombong mengatakan ”Semua pertanyaan sudah ada di kepala saya!” Ingatan manusia ada batasnya. Bahkan pena yang sudah melemah sekalipun, tetap lebih baik dibanding ingatan yang paling hebat. Demikian pepatah China mengatakan. Jadi buatlah daftar pertanyaan. Paling tidak garis besar atau pointernya saja.

SELAMA WAWANCARA
- PERHATIKAN TEMPAT WAWANCARA.
Lagi-lagi hal pertama yang harus diperhatikan adalah lokasi wawancara. Ini sangat penting untuk seorang reporter radio, karena kondisi lokasi berpengaruh terhadap interview. Lihatlah apakah ada bunyi-bunyian yang mengganggu seperti suara kipas angin atau AC. Jika lokasi wawancara adalah kantor atau rumah narasumber, selain bunyi-bunyian itu perhatikan juga aksesoris ruangan, apakah ada yang menarik perhatian. Mungkin saja aksesoris/pajangan seperti lukisan menjadi ice breaker dalam interview.
2. PERIKSA KEMBALI ALAT PEREKAM.
Meski sudah dipersiapkan secara sempurna sebelumnya, kita harus kembali memeriksa alat perekam sekaligus mulai mengoperasikannya. Jangan pernah sok yakin semuanya sudah beres, tanpa sebelumnya mengecek kembali. Banyak kasus, penyepelean semacam itu menimbulkan penyesalan tak berguna.
3. GUNAKAN HEADPHONE/EARPHONE.
Standar interview di lapangan untuk reporter radio adalah gunakan readphone (lebih dianjurkan) atau earphone. Seperti itu kamera televisi yang ada tanda bahwa objek di depannya terekam dengan baik, maka alat perekam juga harus demikian. Penanda bahwa suara terekam dengan baik adalah dengan mendengarnya melalui headphone. Apakah suara narasumber sudah cukup besar? Atau terlalu besar? Juga untuk mengetahui secara pasti, bahwa rekaman ini berjalan normal.
4. PERHATIKAN KONDISI NARASUMBER.
Ketika janjian wawancara, kondisi narasumber sehat walafiat. Siapa yang tahu pas wawancara ternyata kurang sehat. Misalnya flu ringan, sehingga suaranya menjadi sengau. Tentu ini berpengaruh karena radio adalah suara. Atau dia beberapa telepon genggam yang berpotensi mengganggu selama wawancara. Mintalah dia untuk mematikannya… JANGAN LUPA MATIKAN PULA HP KITA SENDIRI.

5. AJUKAN PERTANYAAN MUDAH TERLEBIH DAHULU UNTUK INTERVIEW PANJANG (MENGGALI INFORMASI) DAN SIMPAN PERTANYAAN PALING SULIT DI AKHIR WAWANCARA.
Jika kita interview untuk penggalian informasi dan tidak dilakukan secara live, maka inilah yang harus dilakukan. Kita harus sebanyak mungkin mendapatkan informasi dari narasumber. Jika pertanyaan sulit diajukan di depan, maka berisiko besar. Mungkin saja narasumber tidak terima dengan pertanyaan sulit itu dan marah. Akibatnya, pertanyaan lain tidak sempat disampaikan. Masih beruntung jika dia tidak marah dan hanya mengatakan, ”NO COMMENT!”
6. AJUKAN PERTANYAAN PALING MENARIK DI AWAL JIKA INTERVIEW LIVE DENGAN DURASI TERBATAS.
Berbeda dengan interview di lapangan dan tidak live, maka interview live justru harus mengajukan pertanyaan paling menarik di awal. Pertanyaan sulit mungkin disampaikan ditengah-tengah. Wawancara live harus memerhatikan unsur-unsur pertunjukan, seperti alurnya. Kapan harus klimaks kapan antiklimaks dan seterusnya.
7. JANGAN PERNAH MENGAJUKAN DUA PERTANYAAN SEKALIGUS.
Hal ini masih sering dilakukan oleh reporter pemula. Memang ini sifat dari reporter pemula yang belum tahu ilmu interview. Kadang sok tahu… adalah bodoh mengajukan dua pertanyaan sekaligus dalam satu kesempatan. Sebagus apapun dua pertanyaan tersebut, jika disampaikan sekaligus maka pertanyaan kedua-lah yang akan dijawab narasumber. Jadi pertanyaan pertamanya mubazir.
8. PERTANYAAN TERBAIK KADANG HANYA SATU KATA, YAITU: KENAPA? ATAU BAGAIMANA?
Penyakit reporter radio dengan tujuan agar terlihat pintar (padahal sebaliknya) adalah mengajukan pertanyaan panjang. Dia memberikan beberapa fakta dulu (kadang beropini) barulah pertanyaan intinya di belakang. Ini bukan bentuk pertanyaan yang baik. Pertanyaan terbaik justru kadang hanya satu kata yaitu MENGAPA? Makanya ”Tanya kenapa?” kata sebuah iklan.
9. SETARAKAN DIRI DENGAN NARASUMBER.

Ini ada kaitannya dengan budaya TIMUR kita. Setiap kali bertemu dengan orang lebih tinggi pangkat dan kedudukannya, maka kita harus menghormatinya sedikit lebih banyak dibanding kepada orang biasa. Jika Anda seorang jurnalis, buang sifat ini. Anda mewakili pendengar dalam jumlah banyak. Kondisi mereka beragam, dan mungkin ada juga yang lebih tinggi pangkat dan kedudukannya dibanding narasumber tersebut. Jadi Anda bukan Anda sendiri ketika bertugas sebagai interviewer. Salah satu tanda penyetaraan terlihat dari sapaan, yaitu gunakan kata Anda… bukan Tuan, Nyonya atau Bapak.
10. JANGAN BURU-BURU MATIKAN ALAT PEREKAM.
Biasalah, sifat buruk kita adalah maunya buru-buru dan instant, termasuk ketika interview seseorang. Belum selesai wawancara (= berpisah dengan narasumber) kita sudah buru-buru mematikan alat perekam. Stop! Jangan lakukan itu lagi. Selama Anda masih berada bersama narasumber, alat perekam tetap ’on’. Siapa tahu ucapan terbaik dari narasumber justru muncul pada saat itu, saat ketika alat perekam biasanya sudah dimatikan.
SETELAH WAWANCARA.
- CATAT NAMA NARASUMBER DAN IDENTITAS LENGKAPNYA.
Ini kadang disepelekan. Padahal nama seseorang sudah dibuat selamatannya ketika masih kecil. Jadi jangan pernah salah menyebut atau mengeja nama narasumber. Salah satu caranya dengan mencatat namanya langsung dari orangnya. Tanyakan cara pelafalannya seperti apa, jika namanya agak unik. Catat nomor kontaknya, agar database kita semakin banyak dan mudah menghubunginya kembali di kemudian hari. Siapa hasil wawancara hari itu masih kurang memuaskan.
2. PERIKSA HASIL REKAMAN SAAT ITU JUGA.
Periksa hasil rekaman saat itu juga, ketika narasumber masih bersama Anda. Akan menyita waktu dan tenaga, jika hasil wawancara diketahui cacat setelah berpisah dengan narasumber.
3. UCAPKAN TERIMA KASIH DAN MINTA KESEDIAAN UNTUK WAWANCARA BERIKUTNYA.
Standar sekali ya… ucapan terima kasih. Ah biasalah ini. Tapi kadang, kita lupa melakukannya dengan ikhlas. Sering agak terpaksa. Jika narasumber mengetahui kondisi Anda seperti itu, jangan harap dia mau kembali diwawancarai.
Selamat berkarya!!!
Apa Itu Radio?
Radio adalah media auditif, yang hanya bisa dinikmati dengan alat pendengaran. Radio menjadi media penyampai gagasan, ide dan pesan melalui gelombang elektromagnetik, berupa sinyal-sinyal audio.
Versi Undang-undang Penyiaran no 32/2002: kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana
pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Karakteristik Radio
- Theater of Mind
- Personal
- Sound Only
Karakter lainnya: At Once (cepat/segera/seketika), heard once (didengar sepintas), secondary medium/half ears media (teman dalam aktivitas), murah, mobile/portable (mudah dibawa/dipindahkan), lokal (factor kedekatan), linear.
Keunggulan Radio:
Kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar (Theater of Mind).
Kemampuan selektivitas memilah program dan segmen khalayak.
Fleksibel karena mudah dibawa kemanapun.
Personal sehingga mampu menjadi sahabat pendengar.
Jenis-jenis Radio
Berdasarkan Frekuensi:
1. Frekuensi Modulasi (FM) bergerak pada frekuensi 87 MHz sampai 108 MHz.
2. Amplitudo Modulasi (AM) atau Medium Wave (MW) berada pada jalur 540 sampai 1600 KHz.
3. Short Wave (SW) mempunyai ruang frekuensi yang sangat lebar yaitu dari 1600 KHz sampai 30.000 KHz.
Berdasarkan Penyelenggara:
Radio milik negara
Radio publik
Radio swasta/komersial
Radio komunitas (kampus/LSM)
Radio asing
Berdasarkan Program:
Radio Hiburan/Musik
Radio Informasi/News
Radio Campuran
Radio Propaganda
Radio Religius
Jenis Program Radio
Ada dua kategori besar:
- Berita
- Current affair
- Feature
- Interview, dll.
- Hiburan
- Musik
- Humor
- Kuis, dll.
Plus kemasan-kemasan lain dan pendukung:
- Iklan
- Radio Eksposure/Promo
- Station Id’s
- Opening/Closing (Tune/Cue)
Tim Produksi Siaran Radio
Hiburan/Musik:
- Produser
- Penulis Naskah/Riset
- Direktur Musik (Music Director)
Berita:
- Produser
- Reporter
- Penulis Naskah/Riset
- Operator Produksi
Kemasan Pendukung:
- Produser/Kreator
- Penulis Naskah
- Operator Produksi
Tugas Tim Produksi
Produser:
- Bertanggung jawab atas produk yang dihasilkan.
- Menyediakan produk tepat pada waktunya.
- Mengkoordinir tim produksi.
- Mengatur alur kerja tim produksi.
- Menyediakan semua keperluan tim produksi.
- Menjadi jembatan tim dengan pihak lain.
Penulis Naskah:
• Menyediakan naskah sebagai bahan produksi/bahan siaran.
• Menyediakan bahan tepat pada waktunya.
• Memastikan keakuratan data dan pengayaan data melalui riset.
Reporter:
• Mencari bahan di lapangan/luar kantor.
• Menyediakan naskah siap baca.
• Menyampaikan laporan dari lapangan
Direktur Musik:
• Menyediakan musik yang dibutuhkan.
• Memberikan masukan musik yang tepat.
• Melaksanakan tugas tersebut sesuai waktunya.
Operator Produksi:
• Memproduksi sesuai perintah produser.
• Memiksing bahan mentah menjadi sebuah bahan layak siar.
• Mengerjakan dalam tempo sesuai keperluan tim

Peralatan Produksi
• Tape Recorder
• Headphone/earphone
• Komputer editing dengan software suara (cool edit) dan speaker.
• Studio rekaman (studio berisi mikser, mike, speaker dan komputer bersoftware cool edit)
Peralatan Lengkap Studio Radio
• Microphone
• Audio Console (mixing console)
• Tape Recorder
• Real to real tape machine
• CD (compact disc) player/writer
• DVD (digital compact disc) player
• Turntable (piringan hitam)
• Power Amplifier (monitor)
• Headphone
• Computer
Unsur-unsur Inti Siaran Radio:
- Song
- Sound
- Silent
- Word
Empat unsur inilah yang harus diolah menjadi sajian yang menarik.
Software Audio

(yang standar adalah Cool Edit Pro atau Adobe Audio Pro):
Adalah software yang biasa digunakan untuk membuat program audio, baik vokal maupun musik.
Cool Edit menjadi software standar yang digunakan di hampir semua radio di Indonesia, meski ada sejumlah software lainnya. Hebatnya, hampir semua software yang digunakan adalah bajakan.
Copy Writing Radio Apa saja yang perlu copy writing?
- Naskah Station ID
- Naskah Iklan
- Naskah Ad-lib
- Naskah Radio Eksposur/Promo
- Naskah Cue Opening/Closing
Metode Copy Writing:
- Konsep Dasar: ditetapkan dalam format tertulis.
- Pendekatan Kreatif: yang membawa daya tarik untuk didengar dan dipercaya
- Konsep Bahasa Siaran: bahasa verbal – announcement & conversation – pemanfaatan kosa kata – phonetics – sintaksis – kaedah tata-bahasa – struktur
Struktur Copy Writing:
- Opening: introduction – attention getter
- Information: featuring problems & interest
- Message: to solve the problems – solution (ask for action)
- Identification: the sender
Formula Spot Writing:
-
- Attention Getter
- Need Step: menunjukkan kebutuhan & problem
- Satisfaction: memberi informasi tentang kepuasan (terpenuhi kebutuhannya)
- Visualisasi: perlihatkan hasilnya (akibatnya), dan …………….
- Action Step: meminta untuk “action” atau membuktikannya
Persiapan Copy Writing:
- Copy Writing: kerja kreatif
- Kerja menulis bahasa verbal
- Memahami “what to say” (product knowled-ge) dan menulis “how to say”
- Memahami psikografi dari prospect audience
- Memenuhi harapan AIDA (Attention – Interest – Desire – Action)
- Memiliki perbendaharaan kata & kosa-kata
Konsep Kreatif:
- Idiom: penggambaran pesan dalam bentuk penampilan adegan
- Gaya: penyampaian dengan memakai referensi tertentu
- Bunyi: musik & SFX yang melatar belakangi pesan
- Imaji: menarik – bisa dipercaya dan menggetarkan hati
- Wacana: kata-kata yang berisi pesan verbal
- Momentum: memanfaatkan events tertentu
- Talent: mampu mengembangkan kreatif pesan
- Skill: pada kerja produksi rekaman
- USP (Unique Selling Point): memiliki nilai jual – berbeda dengan yang lain)
- Waktu Siar: disiarkan pada waktu yang “paling” tepat
Langkah-langkah Membuat Station Id’s

- Pelajari segment radionya. Siapa pendengarnya? Bagaimana kebiasaan mereka? Apa kesukaan utama mereka? Dll. Ini penting untuk mendapatkan roh atau jiwa dari sebuah radio.
- Fahami format siarannya. Apakah hanya musik? Atau digabung dengan news? Musiknya musik apa? Dll. Ini penting untuk mengetahui karakter dari sebuah radio.
- Ketahui dengan pasti dan tepat, apa identitas radionya? Apakah radio ini mempunyai tagline? Moto? Atau sejenisnya? Jangan sampai salah menampilkan sesuatu yang bertentangan dengan tagline atau moto radio tersebut.
- Rancang kalimat yang singkat, jelas dan tepat sasaran sesuai dengan point 1,2 dan 3.
- Pilih musik instrumentalia (atau bikin sendiri lebih baik) yang sesuai dengan point 1 dan 2, serta sesuai dengan waktu ditayangkannya. Apakah ditayangkan pagi, siang, sore dan malam? Atau cocok untuk semua waktu tersebut.
- Berkreasilah…
Langkah-langkah Membuat Cue/Tune Opening dan Closing Program:
- Pelajari dengan seksama jenis programnya. Apa isi programnya? Siapa pendengarnya? Apa karakter programnya? Kalau perlu, pelajari juga karakter penyiarnya.
- Pastikan jadwal siarannya. Apakah pagi, siang, sore atau malam?
- Rancanglah kalimat yang sesuai dengan point 1 dan 2.
- Ingat, kalimat hanya singkat tapi jelas, dan memberikan informasi yang tepat yang dibutuhkan pendengar.
- Pilihlah musik yang sesuai dengan point 1 dan 2, serta sesuaikan karakter musiknya untuk opening, bridging atau closing.
- Berkreasilah…
Langkah-langkah Membuat Iklan Komersial atau PSA:
- Pelajari dengan seksama apa yang akan diiklankan. Apakah sebuah produk, jasa atau pengumuman?
- Pelajari dengan seksama apa tujuan iklan tersebut. Apakah perkenalan, pencitraan, memelihara produk atau menjual?
- Lakukan brainstorming ide (lebih baik dilakukan oleh lebih dari satu orang).
- Pilihlah ide yang paling kreatif dan sesuai dengan point 1 dan 2.
- Buatlah naskah yang terbaik berdasarkan point 3 dan 4.
- Lengkapi dengan sound effect dan musik yang pas.
- Pilih narator dan voice over yang tepat.
- Berkreasilah…
Langkah-langkah Membuat Radio Eksposure/Promo
1. Pelajari dengan seksama jenis programnya. Apa isi programnya? Siapa pendengarnya? Apa karakter programnya? Kalau perlu, pelajari juga karakter penyiar program tersebut. Sering terjadi, radio promo hanya asal-asalan. Padahal, radio promo ini akan memandu seorang pendengar untuk menyimak program tersebut. Jangan heran bila pendengar enggan menyimak program karena radio promo yang buruk. Jadi mesti diingat, membuat radio promo harus sama baiknya dengan pembuatan spot lain seperti iklan komersial.
2. Pastikan jadwal siarannya. Apakah pagi, siang, sore atau malam? Ini akan berpengaruh terhadap tensi atau mood dari radio promo tersebut. Malam berati leih rileks dibanding pagi atau siang, begitu juga yang lainnya punya karakter masing-masing yang berbeda.
3. Ketahui dengan pasti, apa tujuan program tersebut dipromokan. Sekedar memberi tahu, mengajak mendengarkan, atau meminta pendengar ikut berinteraksi. Yang paling sering terjadi adalah, radio promo dengan karakter sama saja. Tidak peduli acara yang dipromokan itu membutuhkan sentuhan lebih. Apalagi buat program yang bersponsor.
Tahap selanjutnya sama seperti tahap-tahap pembuatan Spot Radio Comersial/PSA.
4. Lakukan brainstorming ide (lebih baik dilakukan lebih dari satu orang).
5. Pilihlah ide yang paling kreatif dan sesuai dengan point 1 dan 2.
6. Buatlah naskah yang terbaik berdasarkan point 3 dan 4.
7. Lengkapi dengan sound effect dan musik serta cuplikan programnya. Cuplikan program juga jangan asal pilih. Carilah cuplikan yang paling menarik dan atau kontroversial. Telinga pendengar akan memberikan perhatian lebih kepada cuplikan acara semacam itu.
8. Pilih narrator dan voicer over yang tepat.
9. Berkreasilah…
.
.

















